Mata uang Garuda menghadapi tekanan yang kian sulit dibendung. Berdasarkan catatan penutupan perdagangan pada Senin, 21 September 2026, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan tajam sebanyak 0,54% dan berada di posisi Rp17.825 per dolar AS. Kondisi tersebut memperpanjang tren penurunan mata uang lokal di tengah berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Penurunan nilai tukar rupiah ini dipicu oleh sejumlah faktor utama. Pelaku pasar saat ini bersiaga penuh sambil menunggu keputusan suku bunga lanjutan dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Tambahan tekanan di pasar spot juga berasal dari tingginya harga minyak dunia serta perpindahan arus modal asing menjelang pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.

Situasi ini membawa dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat secara luas. Penurunan nilai tukar berisiko memicu kenaikan harga produk impor, pembengkakan biaya bahan baku sektor manufaktur, serta peningkatan laju inflasi harian. Apabila tren tersebut berlangsung dalam waktu lama, daya beli publik diyakini akan semakin melemah.

Sejumlah pengamat ekonomi menilai bahwa fluktuasi rupiah masih berpotensi terjadi dalam beberapa pekan mendatang. Situasi tersebut sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik internasional serta langkah kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia bersama pemerintah guna meredam gejolak.

Sumber: CNBC Indonesia | Rupiah Ditutup Melemah 0,54%, Dolar AS Kini Parkir di Rp17.825 | Tim Riset CNBC Indonesia | 21 September 2026 | Ilustrasi AI

Tinggalkan komentar

Time traveller

Selamat datang di seputarwilis.com ! Wadah berbagi kreativitas pemuda di Kediri dan sekitarnya. Hanya disini kamu bisa eksplor pengetahuanmu tentang informasi aktual di seputar Wilis. Mau berbagi info menarik dengan kami? Dengan senang hati, kami tunggu ya!

Yuk Gabung!