Surabaya – Kasus henti jantung berisiko menimbulkan kematian dalam hitungan menit jika penanganan darurat tidak segera diberikan. Tindakan sigap berupa resusitasi jantung paru (RJP) atau cardiopulmonary resuscitation (CPR), khususnya kompresi dada, merupakan upaya krusial guna menjaga kelangsungan aliran darah serta suplai oksigen menuju otak.
Dokter Agus Subagyo selaku perwakilan Yayasan Jantung Indonesia Jawa Timur mengimbau agar pasien yang mengalami henti jantung lekas mendapat pertolongan berupa kompresi dada sesegera mungkin sembari menanti kedatangan tim medis.
Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Agus saat mendampingi Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, Dokter Martha Siahaan, pada acara konferensi pers menyambut World Heart Day 2026 yang diselenggarakan secara kolaboratif oleh RS Kemenkes Surabaya, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), serta Yayasan Jantung Indonesia.
“Detik jantung berhenti itu sangat cepat reaksinya. Tiga sampai lima menit harus sudah mendapat kompresi,” ujar Agus.
Ia menerangkan, ketika organ jantung berhenti memompa darah, distribusi oksigen ke otak ikut terhenti. Apabila situasi ini dibiarkan berlangsung hingga beberapa menit, potensi terjadinya kerusakan otak permanen akan semakin meningkat.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau agar mampu mengenali gejala henti jantung, seperti korban yang mendadak diam tidak bergerak, tidak menunjukkan reaksi ketika dipanggil atau disentuh, serta berhenti bernapas secara normal.
Apabila menjumpai situasi tersebut, warga di sekitar lokasi kejadian harus segera meminta pertolongan dan menghubungi kontak darurat medis. Sambil menunggu kehadiran tenaga kesehatan, tindakan pertolongan pertama dapat dijalankan melalui kompresi dada.
Agus menganjurkan agar masyarakat menghubungi layanan ambulans 118 apabila tersedia, bersamaan dengan pelaksanaan tindakan pertolongan pertama.
Cara Melakukan Kompresi Dada
Tindakan kompresi dada dikerjakan dengan menempatkan pangkal telapak tangan pada area tengah dada, tepatnya di separuh bagian bawah tulang dada.
Selanjutnya, tangan yang lain ditumpukan di atas tangan pertama. Kedua tangan lantas dipakai untuk menekan bagian dada dengan posisi siku tangan tetap lurus.
Tekanan tersebut diberikan secara mantap dan berirama pada frekuensi sekitar 100 hingga 120 kali setiap menitnya.
Proses kompresi ini wajib diteruskan secara konsisten sampai korban memperlihatkan tanda-tanda kehidupan atau penanganan diambil alih sepenuhnya oleh tenaga medis profesional.
Apabila korban mulai bergerak atau bernapas secara spontan, hal tersebut dapat mengindikasikan adanya respons tubuh. Kendati demikian, pasien tetap memerlukan pemeriksaan serta intervensi medis lanjutan.
Agus turut mengingatkan publik agar tidak menyia-nyiakan waktu berharga dengan memberikan minuman, air hangat, ataupun mengoleskan minyak angin kepada individu yang mengalami henti jantung.
“Kalau tidak ada aliran darah, berarti tidak ada oksigen. Dalam tiga sampai lima menit, otak bisa mengalami kerusakan permanen,” jelasnya.
Menurut pandangan Agus, penanganan awal pada kasus henti jantung mesti berpusat pada upaya menjaga sirkulasi darah tetap berjalan sembari menantikan datangnya bantuan medis.
Kenali Faktor Risiko Penyakit Jantung
Selain memahami langkah pertolongan pertama, masyarakat juga perlu mengenali berbagai faktor risiko penyakit jantung serta membiasakan diri menjaga kesehatan jantung sedini mungkin.
Agus menguraikan bahwa detak jantung orang dewasa pada posisi istirahat umumnya berkisar antara 60 sampai 100 kali per menit. Peningkatan denyut jantung yang lebih cepat bisa dipicu oleh beragam situasi, antara lain aktivitas fisik, demam, ataupun gangguan irama jantung.
Sebaliknya, detak jantung yang terlampau lambat dan gagal meningkat sesuai kebutuhan fisik patut diwaspadai, contohnya pada kasus total AV block yang merupakan gangguan hantaran listrik jantung sehingga denyut jantung tetap rendah meskipun penderita sedang beraktivitas.
Kondisi tersebut berpotensi memunculkan keluhan berupa tubuh cepat lelah, pusing, hingga jatuh pingsan, sehingga memerlukan evaluasi medis lebih mendalam.
Agus juga mengingatkan bahwa kemunculan penyakit jantung koroner bisa disebabkan oleh proses penyempitan atau penyumbatan pada saluran pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otot jantung.
Guna menekan potensi ancaman penyakit jantung, masyarakat disarankan konsisten menerapkan gaya hidup sehat melalui pengaturan pola makan yang baik, menghindari rokok, mengendalikan stres, mengawasi tekanan darah, serta rutin berolahraga.
Peringatan World Heart Day yang jatuh pada tanggal 29 September menjadi momentum penting dalam rangka meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung serta stroke.
Kendati demikian, tatkala serangan henti jantung benar-benar terjadi, tindakan penyelamatan tidak boleh ditunda. Segera cari pertolongan medis dan laksanakan kompresi dada berlandaskan panduan pertolongan pertama yang tepat. (AB)








Tinggalkan komentar