Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda mengalami peningkatan ukuran daratan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat luas wilayah daratannya saat ini mencapai 341,5 hektare, yang telah melampaui ukuran sebelum terjadinya peristiwa kolaps pada Desember 2018 lalu sekitar 300 hektare.
Pada tahun 2018, wilayah sisi barat daya mengalami longsor yang membuat daratan menyusut hingga 246 hektare serta memicu terjadinya tsunami. Material erupsi kemudian secara bertahap menimbun kembali kawasan tersebut. Hingga Agustus 2026, luasnya tercatat mencapai 312,3 hektare. Selanjutnya, rangkaian erupsi terus-menerus pada 4 sampai 6 September menambah luas daratan sebesar 32,8 hektare, yang setara dengan sekitar 13 kali area utama Candi Borobudur.
Citra satelit Sentinel turut mendeteksi adanya dua gumuk menyerupai pulau kecil di bagian barat laut dan tenggara. Fenomena ini diduga berasal dari cairan magma yang keluar lewat celah rekahan selama proses erupsi berlangsung sekitar 25 jam, kemudian mengendap membentuk daratan. Kendati demikian, pihak PVMBG bersama para pakar menegaskan bahwa kemunculan tersebut bukanlah “cucu Krakatau” ataupun gunung api yang baru, melainkan masih berupa endapan lava serta abu yang memerlukan pengecekan langsung di lapangan.
Saat ini, status aktivitas gunung berada pada Level II Waspada. Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati area dalam radius 2 kilometer dari kawah serta 1 kilometer dari lokasi dua gumuk tersebut. Gunung ini tengah berada dalam fase pembentukan ulang tubuhnya, yang dinilai menarik dari segi sains namun tetap memiliki tingkat kerawanan tinggi.








Tinggalkan komentar