DEMAK, korandigital.id – Tiga orang guru perempuan berstatus aparatur sipil negara (ASN) yang bertugas di MI Yayasan Miftahul Huda, Desa Turirejo, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, menyampaikan pengakuan mengalami trauma akibat dugaan tindakan kasar dari Ketua Yayasan Miftahul Huda, Muzayyin.

Ketiga pendidik tersebut adalah Munazilah (54), Nikmah (53), serta Rofiah (54). Mereka menyampaikan bahwa diri mereka dipukul pada bagian punggung ketika berlangsungnya kegiatan Hari Lahir (Harlah) Yayasan Miftahul Huda pada hari Senin (21/9/2026).

Insiden tersebut berlangsung sekitar pukul 10.30 WIB bertempat di halaman MI Miftahul Huda 2 dan 3, yang pada saat itu turut dihadiri oleh para siswa, tenaga kependidikan, serta jajaran guru.

Munazilah menjelaskan bahwa peristiwa itu bermula ketika dirinya bersama dua rekan sesama guru tidak langsung berdiri di barisan depan dengan pertimbangan kondisi kesehatan masing-masing.

“Kami bertiga mungkin karena usia, ada gangguan kesehatan. Ada yang sering ke belakang (toilet), hingga lutut yang sering sakit kalau dipakai berdiri lama,” kata Munazilah.

Ia menyebutkan bahwa dirinya sama sekali tidak menduga masalah tersebut akan berujung pada dugaan perbuatan kekerasan.

“Apalagi ada guru yang masih muda-muda. Maksud kami biar yang muda-muda yang berdiri di depan, tapi nggak tahu tiba-tiba terjadi masalah ini,” ujarnya.

Setelah insiden itu terjadi, ketiga guru tersebut merasakan sakit di area punggung dan memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Situasi ini turut memicu rasa trauma bagi ketiganya, sehingga atas dorongan dari pihak keluarga, permasalahan tersebut akhirnya dilaporkan secara hukum ke Polres Demak.

Warga Minta Persoalan Diselesaikan

Kasus ini juga menarik perhatian masyarakat setempat, salah satunya disampaikan oleh Noor Rohim (45) yang menyatakan penyesalannya atas dugaan perlakuan terhadap ketiga guru perempuan tersebut.

Dirinya berharap agar permasalahan yang muncul di lingkungan lembaga pendidikan ini dapat diselesaikan dengan bijak agar tidak terulang kembali di masa mendatang.

“Ada banyak warga yang sudah menyarankan kepada pelaku agar segera mengambil sikap atas perbuatannya, agar masalah ini tidak viral. Tapi kayaknya pelaku kurang responsif,” kata Noor.

Ia berpandangan bahwa karena perkara ini sudah dilaporkan kepada pihak kepolisian, maka kelanjutan prosesnya diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.

“Ya sudahlah biar berproses di jalur hukum, sudah dilaporkan ke Polres Demak,” imbuhnya.

Noor turut berharap agar ke depannya, jika ada langkah-langkah penyelesaian atau perdamaian, kepentingan para guru serta kelangsungan dunia pendidikan tetap mendapat perhatian utama.

“Kalaupun nanti ada upaya penyelesaian atau perdamaian, warga berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Korban jangan dibully, yayasan agar berbenah lagi dengan aturan yang semestinya,” pungkasnya.

Sampai berita ini diterbitkan, laporan terkait dugaan penganiayaan tersebut telah diserahkan kepada pihak Polres Demak, sementara pihak Yayasan Miftahul Huda belum memberikan pernyataan resmi kepada media ini.

Tinggalkan komentar

Time traveller

Selamat datang di seputarwilis.com ! Wadah berbagi kreativitas pemuda di Kediri dan sekitarnya. Hanya disini kamu bisa eksplor pengetahuanmu tentang informasi aktual di seputar Wilis. Mau berbagi info menarik dengan kami? Dengan senang hati, kami tunggu ya!

Yuk Gabung!