Malang – Pengelolaan sekitar 35 ribu hektare tanah negara dengan status Hak Pengelolaan Lahan (HPL) yang berada di bawah wewenang Badan Bank Tanah kini dioptimalkan melalui pelibatan Universitas Brawijaya (UB) guna melaksanakan kajian akademis terhadap potensi wilayah tersebut.

Sekretaris Badan Bank Tanah, Jarot Wahyu Wibowo, menjelaskan bahwa keikutsertaan pihak UB dimaksudkan untuk menghadirkan sudut pandang ilmiah dalam penataan aset tanah negara. Penejelasan tersebut menekankan bahwa lahan harus dianalisis secara mendalam berdasarkan potensi ekonomi, kesesuaian fungsi, serta karakteristiknya, bukan sekadar dilihat sebagai area tanpa isi.

“Tanah itu tidak hanya ruang kosong, tetapi ada ruang ekonomi yang bisa kampus berikan nilai tambahnya,” kata Jarot.

Hingga tahun 2026, total luasan tanah negara berstatus HPL yang berada dalam pengelolaan Badan Bank Tanah mencapai kurang lebih 35 ribu hektare. Pemanfaatan aset ini diarahkan untuk menunjang berbagai program pemerintah serta kegiatan investasi.

Meskipun demikian, penetapan peruntukan lahan tetap wajib mematuhi ketentuan rencana tata ruang wilayah serta dikoordinasikan secara intensif bersama pemerintah daerah setempat.

Besar harapan Jarot agar sinergi bersama universitas ini tidak terbatas pada tahap pembahasan saja, melainkan berlanjut pada riset nyata serta rekomendasi operasional yang aplikatif bagi pengelolaan lahan.

Beberapa bentuk riset yang potensial dikerjakan bersama para akademisi mencakup uji kondisi tanah (soil test), pemetaan ekosistem ekonomi, serta evaluasi tingkat kesesuaian lahan untuk aneka ragam peruntukan.

Dari pelaksanaan kajian tersebut, Badan Bank Tanah menargetkan adanya rumusan rekomendasi pemanfaatan lahan yang selaras dengan karakter wilayah serta tuntutan pembangunan.

Jarot berpandangan bahwa temuan riset akademis mampu mendukung tugas lembaganya dalam mengelola aset tanah secara lebih berdaya guna dan mendatangkan maslahat bagi publik.

Selain menggandeng UB, Badan Bank Tanah turut membuka ruang partisipasi bagi akademisi dari beragam bidang keilmuan. Dalam agenda sosialisasi serta diskusi terkait, institusi ini juga menggandeng sejumlah perguruan tinggi lain di wilayah Jawa Timur lewat forum virtual.

Pada sisi lain, Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Internasional UB, Prof. Andi Kurniawan, mengemukakan bahwa sokongan kaum terpelajar sangat dibutuhkan untuk membenahi tata kelola tanah sekaligus merumuskan keputusan yang akurat, baik untuk aset milik negara maupun kawasan yang dimanfaatkan sektor swasta.

“Berkontribusi ke sistem yang lebih baik terhadap keputusan terutama terhadap aset-aset tanah, baik negara maupun yang masuk ke dunia usaha,” kata Andi.

Andi memaparkan pula bahwa kemitraan bersama Badan Bank Tanah ini sekaligus memberi jalan bagi UB untuk memperluas riset serta melibatkan para mahasiswa. Di samping itu, kedua belah pihak dapat menjajaki peluang pemanfaatan lahan dari Badan Bank Tanah manakala dibutuhkan bagi keperluan pengembangan institusi pendidikan tinggi tersebut.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa pemahaman mendalam mengenai prosedur kerja Badan Bank Tanah membuka kesempatan bagi pihak kampus untuk merancang bentuk kerja sama yang lebih nyata.

Adanya sokongan riset akademis ini diharapkan mampu membuat pemanfaatan tanah negara menjadi jauh lebih tepat sasaran, bernilai guna tinggi, mendongkrak nilai ekonominya secara maksimal, serta memberi dampak positif bagi masyarakat dan kemajuan daerah. (AB)

Tinggalkan Balasan

Time traveller

Selamat datang di seputarwilis.com ! Wadah berbagi kreativitas pemuda di Kediri dan sekitarnya. Hanya disini kamu bisa eksplor pengetahuanmu tentang informasi aktual di seputar Wilis. Mau berbagi info menarik dengan kami? Dengan senang hati, kami tunggu ya!

Yuk Gabung!